Thursday, 10 October 2013

KLASIFIKASI PENAMAAN BATUAN PIROKLASTIK

KLASIFIKASI PENAMAAN BATUAN PIROKLASTIK

A. Pendahuluan 


           Batuan piroklastik adalah suatu batuan yang berasal dari letusan gunungapi, sehingga merupakan hasil pembatuan daripada bahan hamburan atau pecahan magma yang dilontarkan dari dalam bumi ke permukaan. Itulah sebabnya dinamakan sebagai piroklastika, yang berasal dari kata pyro berarti api (magma yang dihamburkan ke permukaan hampir selalu membara, berpendar atau berapi), dan clast artinya fragmen, pecahan atau klastika. Dengan demikian, pada prinsipnya batuan piroklastika adalah batuan beku luar yang bertekstur klastika. Hanya saja pada proses pengendapan, batuan piroklastika ini mengikuti hukum-hukum di dalam proses pembentukan batuan sedimen. Misalnya diangkut oleh angin atau air dan membentuk struktur-struktur sedimen, sehingga kenampakan fisik secara keseluruhan batuannya seperti batuan sedimen. Pada kenyataannya, setelah menjadi batuan, tidak selalu mudah untuk menyatakan apakah batuan itu sebagai hasil kegiatan langsung dari suatu letusan gunungapi (sebagai endapan primer piroklastika), atau sudah mengalami pengerjaan kembali (reworking) sehingga secara genetik dimasukkan sebagai endapan sekunder piroklastika atau endapan epiklastika. 

B.    Klasifikasi Penamaan Batuan Piroklastik
            Berdasarkan ukuran butir klastikanya, sebagai bahan lepas (endapan) dan setelah menjadi batuan piroklastika, penamaannya seperti pada Tabel 1. Bom gunungapi adalah klastika batuan gunungapi yang mempunyai struktur-struktur pendinginan yang terjadi pada saat magma dilontarkan dan membeku secara cepat di udara atau air dan di permukaan bumi. Salah satu struktur yang sangat khas adalah struktur kerak roti (bread crust structure). Bom ini pada umumnya mempunyai bentuk membulat, tetapi hal ini sangat tergantung dari keenceran magma pada saat dilontarkan. Semakin encer magma yang dilontarkan, maka material itu juga terpengaruh efek puntiran pada saat dilontarkan, sehingga bentuknya dapat bervariasi. Selain itu, karena adanya pengeluaran gas dari dalam material magmatik panas tersebut serta pendinginan yang sangat cepat maka pada bom gunungapi juga terbentuk struktur vesikuler serta tekstur gelasan dan kasar pada permukaannya. Bom gunungapi berstruktur vesikuler di dalamnya berserat kaca dan sifatnya ringan disebut batuapung (pumice). Batuapung ini umumnya berwarna putih terang atau kekuningan, tetapi ada juga yang merah daging dan bahkan coklat sampai hitam. Batuapung umumnya dihasilkan oleh letusan besar atau kuat suatu gunungapi dengan magma berkomposisi asam hingga menengah, serta relatif kental. Bom gunungapi yang juga berstruktur vesikuler tetapi di dalamnya tidak terdapat serat kaca, bentuk lubang melingkar, elip atau seperti rumah lebah disebut skoria (scoria). Bom gunungapi jenis ini warnanya merah, coklat sampai hitam, sifatnya lebih berat daripada batuapung dan dihasilkan oleh letusan gunungapi lemah berkomposisi basa serta relatif encer. Bom gunungapi berwarna hitam, struktur masif, sangat khas bertekstur gelasan, kilap kaca, permukaan halus, pecahan konkoidal (seperti botol pecah) dinamakan obsidian. Blok atau bongkah gunungapi dapat merupakan bom gunungapi yang bentuknya meruncing, permukaan halus gelasan sampai hipokristalin dan tidak terlihat adanya struktur-struktur pendinginan. Dengan demikian blok dapat merupakan pecahan daripada bom gunungapi, yang hancur pada saat jatuh di permukaan tanah/batu. Bom dan blok gunungapi yang berasal dari pendinginan magma secara langsung tersebut disebut bahan magmatik primer, material esensial atau juvenile). Blok juga dapat berasal dari pecahan batuan dinding (batuan gunungapi yang telah terbentuk lebih dulu, sering disebut bahan aksesori), atau fragmen non-gunungapi yang ikut terlontar pada saat letusan (bahan aksidental).

Tabel 1. Klasifikasi batuan piroklastika, Fisher 1966


           Berdasarkan komposisi penyusunnya, tuf dapat dibagi menjadi tuf gelas, tuf kristal dan tuf litik, apabila komponen yang dominan masing-masing berupa gelas/kaca, kristal dan fragmen batuan. Tuf juga dapat dibagi menjadi tuf basal, tuf andesit, tuf dasit dan tuf riolit, sesuai klasifikasi batuan beku. Apabila klastikanya tersusun oleh fragmen batuapung atau skoria dapat juga disebut tuf batuapung atau tuf skoria. Demikian pula untuk aglomerat batuapung, aglomerat skoria, breksi batuapung, breksi skoria, batulapili batuapung dan batulapili skoria.

Tipe Endapan Piroklastik
  • Endapan Piroklastik Tak Terkonsolidasi (Unconsolidated)

1.      Bom Gunung Api
Bom Gunungapi adalah gumpalan-gumpalan lava yang mempunyai ukuran lebih besar dari 64mm. Daerah ini sebagian atau semuanya berujud plastik pada waktu tererupsi. Beberapa bomb mempunyai ukuran yang sangat besar.
2.      Blok Gunung Api
Blok Gunung api merupakan batuan piroklastik yang dihasilkan oleh erupsi eksplosive dari fragmen batuan yang sudah memadat lebih dulu dengan ukuran lebih besar dari 64 mm. Blok-blok ini selalu menyudut bentuknya atau equidimensional.
3.      Lapili
Lapili berasal bahasa latin lapillus, yaitu nama untuk hasil erupsi eksplosif gunung api yang berukuruan 2mm-64mm. Selain dari fragmen batuan , kadang-kadang terdiri dari mineral-mineral augti, olivine, plagioklas.
4.      Debu Gunung Api
Debu gunung api adalah batuan piroklastik yang berukuran 2mm-1/256mm yang dihasilkan oleh pelemparan dari magma akibat erupsi eksplosif. Namun ada juga debu gunung berapi yang terjadi karena proses penggesekan pada waktu erupsi gunung api. Debu gunung api masih dalam keadaan belum terkonsolidasi, ( Endarto, Danang, 2005 ).
  •  Endapan Piroklastik yang Terkonsolidasi (consolidated)

1.      Breksi piroklastik
Breksi piroklastik adalah batuan yang disusun oleh block – block gunung api yang telah mengalami konsolidasi dalam jumlah lebih 50 % serta mengandung lebih kurang 25 % lapili dan abu.
2.      Aglomerat
Aglomerat adalah batuan yang dibentuk oleh konsolidasi material – material dengan kandungan yang didominasi oleh bomb gunung api dimana kandungan lapili dan abu kurang dari 25 %
3.      Batu lapilli
Batu lapili adalah batuan yang dominant terdiri dari fragmen lapili dengan ukuran 2 – 64 mm
4.      Tuff
Tuff adalah endapan dari gunung api yang telah mengalami konsolidasi, dengan kandungan abu mencapai 75 %. Macamnya : tuff lapili, tuff aglomerat, tuff breksi piroklastik ( Endarto, Danang, 2005 ).

Tabel 2. Klasifikasi Tuf (Tuffs/Ash) Schmid, 1981

lithic tuff-  tuf didominasi oleh fragmen batuan
vitric tuff - tuf didominasi oleh pumis dan fragmen glas vulkanik
crystal tuff - tuf didominasi oleh fragmen kristal

Tabel 3. Classification and nomenclature of pyroclasts and well-sorted pyroclastic deposits based on clast size (after Schmid, 1981).  
<TBODY>
Clast size in mm 
Pyroclast
Pyroclastic deposit 
Mainly unconsolidated tephra 
Mainly consolidated pyroclastic rock 
> 64 
bomb, block 
agglomerate bed of blocks or bomb, block tephra 
agglomerate pyroclastic breccia 
64 to 2 
lapillus 
layer, bed of lapilli or lapilli tephra 
lapilli tuff 
2 to 1/16 
coarse ash grain 
coarse ash 
coarse (ash) tuff 
< 1/16 
fine ash grain 
fine ash (dust) 
fine (ash) tuff  </TBODY>

Campuran Piroklastik dan Epiklastik 

Tabel 4. Terms to be used for mixed pyroclastic-epiclastic rocks (after Schmid, 1981,). 
<TBODY>
Average  clast size in mm. 
Pyroclastic 
Tuffites  (mixed pyroclastic-epiclastic) 
Epiclastic (volcanic and/or nonvolcanic) 
> 64 
Agglomerate, pyroclastic breccia 
Tuffaceous conglomerate, tuffaceous breccia 
Conglomerate, breccia 
64 - 2 
Lapilli tuff 


2 - 1/16 
coarse 
Tuffaceous sandstone 
Sandstone 
1/16 - 1/256 
fine 
Tuffaceous siltstone 
Siltstone 
< 1/256 

Tuffaceous mudstone, shale 
Mudstone, shale 
Amount pyroclastic material 
100% to 75% 
75% to 25% 
25% to 0%  </TBODY>


Deskripsi



Pemerian Petrografis:
Sayatan tipis batuan Piroklastik; warna putih; bertekstur ( Welded / Nonwelded); ukuran butir
0.2 - 1 mm; bentuk butiran : menyudut – membundar tanggung; disusun oleh: Lithic, Mineral,
Gelas dan Opak.
Komposisi Mineral:
1.      Lithic (20 %) : Berwarna putih, ukuran butir 0.5 - 1 mm, bentuk butiran
membundar tanggung, hadir merata dalam sayatan, sebagai Fragmen.
2.      Piroksen (5 %) : Berwarna coklat, ukuran butir 0.3 - 1 mm, bentuk butiran
euhedral, hadir Menyebar dalam sayatan sebagai Fragmen.
3.      Kuarsa (10 %): Berwarna putih, ukuran butir 0.2 - 1 mm, bentuk butiran
subhedral, hadir Merata dalam sayatan sebagai Fragmen
4.      Gelas (60 %) : Berwarna putih, ukuran butir - mm, bentuk butiran amorf,
hadir merata dalam sayatan sebagai matrik.
5.      Opak (5 %) : Berwarna hitam, ukuran butir 0.2 - 1 mm, bentuk butiran
subhedral, hadir setempat-setempat dalam sayatan sebagai fragmen.
Nama Batuan : Vitric Tuff

Sumber :

http://dongenggeologi.com


TEORI APUNGAN BENUA

TEORI APUNGAN BENUA

Ide Awal Tentang Apungan Benua
            Ide bahwa geografi masa lalu bumi berbeda dengan sekarang ini bukanlah hal baru. Peta-peta yang paling awal menunjukkan antara pantai timur Amerika Selatan dan pantai barat Afrika sebagai bukti pertama bahwa benua itu mungkin pernah menyatu, kemudian terpisah dan pindah ke posisi yang sekarang ini. Tahun 1620, Sir Francis Bacon berkomentar tentang kesamaan dari garis pantai barat Afrika dan timur Amerika Selatan. Namun, ia tidak membuat hubungan antara dunia lama dan baru yang mungkin telah bergabung secara bersama-sama.
           Buku Antonio Snider-Pellegrini tahun 1858 Creation and Its Mysteries Revealed adalah salah satu referensi khusus yang paling awal dengan ide pengapungan benua. Snider-Pellegrini menjelaskan bahwa semua benua yang dihubungkan bersamaan selama Periode Pennsylvanian dan kemudian terpecah. Dia mendasarkan kesimpulannya pada kemiripan antara fosil tanaman di cekungan batubara berumur Pennsylvanian di Eropa dan Amerika Utara.                                  
           Selama akhir abad 19, ahli geologi Austria, Edward Suess mencatat kesamaan antara fosil tumbuhan Akhir Paleozoikum dari India, Australia, Afrika Selatan, dan Amerika Selatan, serta bukti glasiasi di susunan batuan yang ada benua tertentu. Fosil-fosil tumbuhan terdiri dari tumbuhan unik yang terdapat di lapisan batubara tepat di atas endapan glasial dari benua selatan. flora ini sangat berbeda dengan flora rawa batubara dari benua utara, yang pernah di ungkapkan oleh Snider-Pellegrini sebelumnya, dan secara kolektif dikenal sebagai flora Glossopteris yaitu salah satu genus yang paling mencolok.     
  
                                   
Gambar. 1 Fosil Daun Glossopteris : Tanaman fosil, seperti Glossopteris terdapat di Formasi Dunedoo yang berumur Permian atas di Australia, ditemukan di semua lima benua Gondwana. Kehadiran mereka di benua dengan iklim yang sangat beragam saat ini adalah bukti bahwa benua-benua berada di satu waktu terhubung. Distribusi dari tanaman pada waktu itu di sabuk lintang sama iklim.

Dalam bukunya, The Face of the Earth, yang diterbitkan pada 1885, Suess mengusulkan nama Benua Gondwana untuk superbenua yang terdiri dari benua selatan tersebut. Fosil yang melimpah dari flora Glossopteris ditemukan di cekungan batubara di Gondwana, sebuah provinsi di India. Suess berpikir bahwa benua selatan ini berada di satu waktu yang dihubungkan oleh jembatan tanah dimana tanaman dan hewan bermigrasi. Dengan demikian, dalam pandangannya, kesamaan fosil di benua ini adalah karena penampilan dan hilangnya jembatan darat yang menghubungkanya.       
 Ahli geologi Amerika Frank Taylor menerbitkan sebuah pamflet tahun 1910, yang menyajikan teorinya sendiri dari pengapungan benua. Dia menjelaskan pembentukan pegunungan sebagai akibat dari gerakan lateral benua. Dia juga membayangkan benua sekarang ini sebagai bagian dari benua kutub yang lebih besar yang akhirnya pecah dan bermigrasi ke arah khatulistiwa setelah rotasi bumi, konon diperlambat oleh gaya pasang yang besar. Menurut Taylor, kekuatan-kekuatan pasang surut yang dihasilkan ketika posisi Bumi sangat dekat dengan Bulan sekitar 100 juta tahun lalu.                                                                                     Meskipun kita sekarang tahu bahwa mekanisme Taylor ini tidak benar, salah satu kontribusi paling signifikan adalah pernyataannya bahwa Mid-Atlantic Ridge, ditemukan oleh ekspedisi Challenger HMS Inggris tahun 1872-1876, mungkin menemukan situs di sepanjang benua kuno yang pecah untuk membentuk Samudera Atlantik yang sekarang ini.

Alfred Wegener dan Teori Apungan Benua
            Alfred Wegener, seorang ahli meteorologi Jerman, yang mengembangkan hipotesis pergeseran benua. Dalam buku monumentalnya, The Origin of Continents and Oceans (pertama kali diterbitkan pada 1915), Wegener mengusulkan bahwa semua daratan awalnya bersatu dalam sebuah super tunggal yang ia beri nama Pangaea, dari bahasa Yunani yang berarti "semua daratan." Wegener menggambarkan konsep besar tentang gerakan benua dalam serangkaian peta yang menunjukkan pecahnya Pangaea dan gerakan dari berbagai benua untuk masa kini. Wegener mengumpulkan sejumlah besar bukti geologi, paleontologi, dan klimatologi untuk mendukung pengapungan benua.


Gambar. 2 Alfred Wegener : Alfred Wegener, seorang ahli meteorologi Jerman, mengusulkan hipotesis pergeseran benua pada tahun 1912 berdasarkan sejumlah besar bukti geologi, paleontologi, dan klimatologi. Ia ditampilkan di sini menunggu di luar musim dingin Arktik dalam gubuk ekspedisi di Greenland.


            Ahli geologi teremuka Alexander du Toit dari afrika selatan  mengembangkan argumen Wegener lebih lanjut dan mengumpulkan lebih banyak bukti geologi dan paleontologi dalam mendukung pergeseran benua. Pada tahun 1937, du Toit mengumumkan bahwa Benua kami Berkelana, di mana ia membedakan endapan glasial dari Gondwana dengan endapan batubara pada umur yang sama ditemukan di benua belahan utara. Untuk memecahkan paradoks klimatologi, du Toit memindahkan benua Gondwana ke Kutub Selatan dan membawa benua belahan utara bersama-sama seperti endapan batubara yang terletak di khatulistiwa. Dia menamakan daratan Laurasia utara. Dimana terdiri dari Amerika Utara, Greenland, Eropa, dan Asia (kecuali India) sekarang ini.

Bukti-Bukti Apungan Benua
            Wegener, du Toit, dan lain-lain menggunakan teori sebagai bukti pengapungan benua seperti kecocokan dari garis pantai benua, urutan batuan yang sama dan pegunungan yang memiliki umur yang sama di benua yang berbeda, pencocokan endapan glasial dan zona iklim bumi, dan kesamaan tumbuhan serta fosil binatang maupun tumbuhan di benua yang terpisah. Wegener dan pendukungnya berpendapat bahwa sejumlah besar bukti dari berbagai sumber menunjukkan bahwa benua berdekatan atau bersatu di masa lalu.
Kecocokan Benua
            Wegener, seperti beberapa peneliti sebelum dia, terkesan dengan kemiripan yang dekat antara garis pantai benua di sisi berlawanan dari Samudera Atlantik, khususnya Amerika Selatan dan Afrika. Ia mencontohkan kemiripan-kemiripan ini sebagai bukti parsial bahwa benua-benua berada di satu waktu bergabung bersama sebagai sebuah superbenua yang kemudian terpecah. Sebagai seorang kritikus dia menunjukkan konfigurasi garis pantai dari hasil proses erosi dan pengendapan dan karena itu secara terus menerus dimodifikasi. Jadi, bahkan jika benua telah terpisah selama Era Mesozoikum, seperti yang Wegener usulkan, bukan tidak mungkin bahwa garis pantai akan cocok persis.               

Gambar. 3 Kecocokan Benua : Ketika benua ditempatkan bersama-sama berdasarkan garis besar mereka, paling cocok tidak bersama kini mereka garis pantai, melainkan di sepanjang lereng benua pada kedalaman sekitar 2000 m, di mana erosi akan minimal.

Kesamaan Urutan Batuan dan Barisan Pegunungan
Jika benua dalam satu waktu bergabung, maka batuan dan pegunungan pada waktu yang sama di lokasi yang berdampingan dan di benua yang berhadapan haruslah cocok. Seperti halnya untuk benua Gondwana. Lautan ataupun bukan, dan urutan batuan glasial dari Pennsylvania ke periode Jurassic hampir sama di semua lima benua Gondwana, menunjukkan bahwa mereka bergabung pada satu waktu.
Beberapa gunung besar juga mendukung hipotesis pergeseran benua. Salah satu bagian dari gunung ini hanya terlihat di pinggir pantai benua seperti pegunungan Appalachia yang terpotong, jadi dilihat dari timur Amerika Serikat dan Kanada dan pegunungan tersebut berakhir tiba-tiba di pantai Newfoundland. Gunung dengan rentang usia yang sama dan gaya deformasi juga ditemukan di timur Greenland, Irlandia, Inggris, dan Norwegia. Menariknya, batupasir merah yang sama digunakan dalam pembangunan benteng Inggris dan Skotlandia banyak digunakan dalam berbagai bangunan di seluruh New York. Jadi, meskipun Pegunungan Appalachian dan pegunungan di Inggris memiliki umur yang setara, saat ini dipisahkan oleh Samudera Atlantik, dulunya pegunungan ini menyatu ketika benua bersatu pada Era Paleozoikum.

  
Gambar. 4 Kesamaan Urutan Batuan dan Barisan Pegunungan : Urutan dari laut, nonmarine, dan batu glasial dari Pennsylvania (UC) untuk Jurassic (JR) usia hampir sama di semua lima benua Gondwana (Amerika Selatan, Afrika, India, Australia, dan Antartika). Ini benua yang terpisah hari ini dan memiliki lingkungan yang berbeda dan iklim mulai dari tropis ke kutub. Dengan demikian, batuan membentuk di benua masing-masing sangat berbeda. Ketika benua semua bergabung bersama di masa lalu, bagaimanapun, lingkungan benua yang berdekatan adalah serupa dan batuan terbentuk di daerah tersebut adalah serupa. Kisaran ditunjukkan oleh G di setiap kolom adalah rentang usia (Karbon-Permian) dari flora Glossopteris.

Bukti Glasiasi
            Selama Era Paleozoikum Akhir, gletser besar menutupi daerah benua yang besar dari belahan bumi selatan. Bukti untuk glasiasi ini melingkupi hingga lapisannya (sedimen yang diendapkan oleh gletser) dan tanda goresan di batuan dasar hingga bagian bawahnya. Fosil dan batuan sedimen yang berumur sama dari belahan bumi utara, bagaimanapun, tidak memberikan indikasi glasiasi. Fosil Tanaman ditemukan di batubara menunjukkan bahwa belahan bumi utara memiliki iklim tropis selama belahan bumi bagian selatan mengalami glasiasi.                                                  
          Semua benua Gondwana kecuali Antartika saat ini berada dekat khatulistiwa di daerah subtropis dengan iklim tropis. Pemetaan striations glasial di batuan dasar di Australia, India, dan Amerika Selatan menunjukkan bahwa gletser berpindah dari wilayah lautan di masa kini ke daratan. Hal ini akan menjadi sangat tidak mungkin karena benua gletser yang besar (seperti terjadi di benua Gondwana selama Era Paleozoikum Akhir) aliran ke arah luar dari daerah pusatnya terakumulasi menuju laut. Jika benua tidak bergerak selama masa lalu, orang harus menjelaskan bagaimana gletser bergerak dari lautan ke daratan dan bagaimana skala besar benua gletser yang terbentuk di dekat khatulistiwa. Tetapi jika benua dipasang kembali sebagai daratan tunggal dengan Afrika Selatan yang terletak di Kutub Selatan, arah gerakan akhir gletser benua Paleozoikum masuk akal. Selanjutnya, pengaturan geografis menempatkan benua utara dekat daerah tropis, yang konsisten dengan bukti fosil dan klimatologi dari Laurasia.


  (a)                                                             (b)
                     Gambar. 5 Bukti Glasiasi Menunjukkan Pengapungan Benua              
(a)  Ketika benua Gondwana ditempatkan bersama sehingga Afrika Selatan terletak di Kutub Selatan, gerakan glasial ditunjukkan oleh striations (merah panah) ditemukan pada singkapan batuan di benua masing-masing masuk akal. Dalam situasi ini, gletser (putih daerah terletak di iklim kutub dan telah bergerak radial keluar dari daerah tebal pusat ke arah pinggiran tersebut.
(b)   striations Es (tanda goresan) pada singkapan dari Permian usia batuan dasar tersingkap di Hallet 's Cove, Australia, menunjukkan arah umum dari gerakan glasial lebih dari 200 juta tahun lalu. Sebagai gletser bergerak di atas permukaan benua, itu grinds dan goresan batu yang mendasarinya. Tanda goresan yang diawetkan pada permukaan rock (striations glasial) dengan demikian memberikan bukti arah (panah merah) gletser bergerak pada saat itu.
            
Bukti Fosil
Beberapa bukti yang paling menarik tentang pergeseran benua berasal dari catatan fosil. Fosil flora Glossopteris ditemukan di Pennsylvania dan Permian usia kandungan batubara di semua lima benua Gondwana. Flora Glossopteris ditandai oleh Glossopteris benih pakis, serta oleh banyak tanaman khas dan mudah diidentifikasi lainnya. Serbuk sari dan spora tanaman dapat tersebar di jarak yang jauh oleh angin, namun jenis tanaman Glossopteris diproduksi dengan manabur bijinya dengan bantuan angin. Bahkan jika biji telah melayang di laut, mereka mungkin tidak akan tetap layak untuk waktu yang lama di air asin.                           Iklim saat ini dari Amerika Selatan, Afrika, India, Australia, dan berbagai Antartika dari tropis ke kutub dan sangat beragam untuk mendukung jenis tanaman dalam flora Glossopteris. Wegener beralasan bahwa benua ini haruslah sekali bergabung sehingga daerah-daerah yang terpisah semua berada di busur lintang iklim yang sama.         
Sisa-sisa fosil hewan juga memberikan bukti kuat bagi pergeseran benua. Salah satu contoh terbaik adalah Mesosaurus, reptil air tawar yang fosil ditemukan dalam Permian usia batuan di daerah tertentu dari Brasil dan Afrika Selatan dan tempat lain di dunia. Karena fisiologi hewan air tawar dan laut sangat berbeda, sulit untuk membayangkan bagaimana sebuah reptil air tawar bisa berenang menyeberangi Samudera Atlantik dan menemukan lingkungan air tawar hampir identik dengan habitat semula. Apalagi jika Mesosaurus bisa berenang menyeberangi lautan, sisa-sisa fosil harus tersebar luas. Hal ini lebih logis untuk mengasumsikan bahwa Mesosaurus tinggal di danau yang sekarang merupakan wilayah di sekitar Amerika Selatan dan Afrika, tetapi pernah bersatu menjadi sebuah benua tunggal.                     
Lystrosaurus dan Cynognathus keduanya adalah reptil darat yang hidup pada periode Trias, fosil mereka ditemukan pada masa kini di fragmen kontinental Gondwana. Karena mereka berdua hewan darat, mereka tentu tidak bisa berenang menyeberangi lautan saat ini memisahkan benua Gondwana. Oleh karena itu, adalah logis untuk menganggap bahwa benua haruslah sekali pernah terhubung. Penemuan terbaru fosil dinosaurus di benua Gondwana lebih lanjut membekukan argumen bahwa daratan berada di dekat selama Era Mesozoikum Awal. 
Meskipun semua bukti empiris disajikan oleh Wegener dan kemudian oleh du Toit dan lain-lain, ahli geologi paling hanya menolak untuk menghibur gagasan bahwa benua mungkin telah bergerak di masa lalu. Para ahli geologi yang belum tentu menjadi keras kepala untuk menerima ide-ide baru, melainkan, mereka menemukan bukti pergeseran benua yang tidak memadai dan tidak meyakinkan. Pada bagian, ini, karena tidak ada yang bisa menyediakan mekanisme yang sesuai untuk menjelaskan bagaimana benua bisa bergerak di atas permukaan bumiMinat pergeseran benua menyusut sampai bukti baru dari penelitian oseanografi dan studi tentang medan magnet bumi menunjukkan bahwa kini cekungan laut tidak setua benua, tetapi fitur geologis muda yang dihasilkan dari pecahnya Pangaea.
  



Gambar. 6 Bukti Adanya Fosil Sebagai Pendukung Pengapungan Benua : Beberapa tanaman dan hewan yang fosil ditemukan hari ini di benua yang terpisah dari Amerika Selatan, Afrika, India, Australia, dan Antartika. Selama Era Paleozoikum Akhir, benua-benua bergabung bersama untuk membentuk Gondwana, daratan selatan Pangaea. Tanaman dari flora Glossopteris ditemukan di semua lima benua, yang saat ini memiliki iklim yang sangat berbeda, namun, selama periode Permian dan Pennsylvania, mereka semua terletak di sabuk iklim umum yang sama. Mesosaurus adalah reptil air tawar yang hanya ditemukan fosil di mirip Permian usia bebatuan nonmarine di Brazil dan Afrika Selatan. Cynognathus dan Lystrosaurus adalah lahan reptil yang hidup pada periode Triassic Awal. Fosil Cynognathus ditemukan di Amerika Selatan dan Afrika, sedangkan fosil Lystrosaurus telah ditemukan dari Afrika, India, dan Antartika. Sulit untuk membayangkan bagaimana reptil air tawar dan darat reptil bisa berenang menyeberangi lautan luas yang saat ini memisahkan benua. Hal ini lebih logis untuk mengasumsikan bahwa benua-benua pernah terhubung.





DAFTAR PUSTAKA

Wicander, Reed., dan Monroe, S. James., 2009, Essentials of Physical Geology, Fifth Eddition, Davis Drive Belmont, CA. USA. Chapter 2:  A Unifying Theory, p. 30 – 35.

Tomecek. M. Stephen., 2009, Science Foundations, Plate Tectonics, Chelsea House, New York. NY 10001